Senin, 08 Juli 2013

5 Masjid Menakjubkan yang terbuat dari Lumpur

      
Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim.

Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Berikut 5 Masjid Menakjubkan yang terbuat dari Lumpur:


1. Masjid Besar Bobo Dioulasso

 Bobo Dioulasso merupakan masjid raya yang terdapat di Burkina Faso, merupakan salah satu masjid tertua di Afrika Barat. Serupa dengan Masjid Djinguereber di Timbuktu, Bobo Dioulasso terbuat dari material lumpur, tanah liat dan kayu-kayuan.

Namun sayang saat ini lingkungan Masjid Raya Bobo Dioulasso karena bau yang diakibatkan oleh sungai yang tercemar. Dan meski sedang mengalami restorasi, namun masyarakat setempat mengatakan bahan yang digunakan tidak lagi lumpur dan tanah liat melainka semen dan sebagainya. 


2. Siwa Oasis


Siwa Oasis merupakan sebuah bangunan yang terbuat dari kasheef, lumpur lokal yang terbuat dari campuran pasir unik dari sebuah danau yang memiliki kandungan garam tinggi. 

Siwa Oasis terletak di sebuah jalur perdagangan kuno di sebelah barat gurun pasir Mesir, sebuah jalur yang vital untuk kemakmuran sebuah negara di era keemasan imperium Roma. Dengan sumber air alami yang dikelilingi oleh tanaman palem yang rindang, membuat para pedagang betah berada di kawasan Siwa Oasis. 


3. Masjid Besar Djenné


Mungkin Masjid Besar Djenne merupakan bangunan lumpur terbesar di dunia, dengan arsitektur khas Sudan meskipun letaknya berada di Mali. Masjid yang pertama dibangun sekitar abad ke-13, strukturnya dibangun satu abad sebelumnya. 

Djenne merupakan sebuah kota yang berdekatan dengan Timbuktu, maka tidak heran jika kedua memiliki hubungan psikologi dan sosial yang kuat.


4. Aït Benhaddou


Aït Benhaddou merupakan salah satu tujuan wisata utama di Maroko, Ouarzazate merupakan sebuah tempat yang sangat indah, dengan kasbah yang terbuat dari tanah liat. Maka tidak heran jika kawasan Ourazazate banyak digunakan sebagai latar berbagai film popular dunia seperti Lawrence of Arabia, Star Wars dan Gladiator.  

Dengan lokasinya yang berada di pinggiran Gurun Sahara, Ourazazate merupakan adalah tempat singgah para pelancong, pedagang, dan peziarah yang kebetulan melewati Gurun Sahara.


5. Shibam


Dengan berjuluk “Manhatten of the desert,” Shibam merupakan kawasan perkotaan yang terletak di Yaman. 

Mayoritas bangunan yang ada di Shibam dibangun pada abad ke-16, dan julukan sebagai Manhattan tersebut dibuktikan dengan apartemen-apartemen yang berdiri di hadapan padang pasir. Uniknya apartemen tersebut dibuat dari batu bata (tanah liat) dan lumpur, dahulu masyarakat Shibam mendirikan kompleks bangunan tersebut sebagai perlindungan dari serangan orang-orang Badui

5 Masjid Menakjubkan yang terbuat dari Lumpur

Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim.

Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Berikut 5 Masjid Menakjubkan yang terbuat dari Lumpur:


1. Masjid Besar Bobo Dioulasso

 Bobo Dioulasso merupakan masjid raya yang terdapat di Burkina Faso, merupakan salah satu masjid tertua di Afrika Barat. Serupa dengan Masjid Djinguereber di Timbuktu, Bobo Dioulasso terbuat dari material lumpur, tanah liat dan kayu-kayuan.

Namun sayang saat ini lingkungan Masjid Raya Bobo Dioulasso karena bau yang diakibatkan oleh sungai yang tercemar. Dan meski sedang mengalami restorasi, namun masyarakat setempat mengatakan bahan yang digunakan tidak lagi lumpur dan tanah liat melainka semen dan sebagainya. 


2. Siwa Oasis


Siwa Oasis merupakan sebuah bangunan yang terbuat dari kasheef, lumpur lokal yang terbuat dari campuran pasir unik dari sebuah danau yang memiliki kandungan garam tinggi. 

Siwa Oasis terletak di sebuah jalur perdagangan kuno di sebelah barat gurun pasir Mesir, sebuah jalur yang vital untuk kemakmuran sebuah negara di era keemasan imperium Roma. Dengan sumber air alami yang dikelilingi oleh tanaman palem yang rindang, membuat para pedagang betah berada di kawasan Siwa Oasis. 


3. Masjid Besar Djenné


Mungkin Masjid Besar Djenne merupakan bangunan lumpur terbesar di dunia, dengan arsitektur khas Sudan meskipun letaknya berada di Mali. Masjid yang pertama dibangun sekitar abad ke-13, strukturnya dibangun satu abad sebelumnya. 

Djenne merupakan sebuah kota yang berdekatan dengan Timbuktu, maka tidak heran jika kedua memiliki hubungan psikologi dan sosial yang kuat.


4. Aït Benhaddou


Aït Benhaddou merupakan salah satu tujuan wisata utama di Maroko, Ouarzazate merupakan sebuah tempat yang sangat indah, dengan kasbah yang terbuat dari tanah liat. Maka tidak heran jika kawasan Ourazazate banyak digunakan sebagai latar berbagai film popular dunia seperti Lawrence of Arabia, Star Wars dan Gladiator.  

Dengan lokasinya yang berada di pinggiran Gurun Sahara, Ourazazate merupakan adalah tempat singgah para pelancong, pedagang, dan peziarah yang kebetulan melewati Gurun Sahara.


5. Shibam


Dengan berjuluk “Manhatten of the desert,” Shibam merupakan kawasan perkotaan yang terletak di Yaman. 

Mayoritas bangunan yang ada di Shibam dibangun pada abad ke-16, dan julukan sebagai Manhattan tersebut dibuktikan dengan apartemen-apartemen yang berdiri di hadapan padang pasir. Uniknya apartemen tersebut dibuat dari batu bata (tanah liat) dan lumpur, dahulu masyarakat Shibam mendirikan kompleks bangunan tersebut sebagai perlindungan dari serangan orang-orang Badui

Rabu, 05 Juni 2013

konsep dasar belajar bahasa arab

KONSEP DASAR BELAJAR BAHASA ARAB

A.     PENDAHULUAN
Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al istima’) kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum), kemampuan membaca (reading competence/mahaarah al-qira’ah), dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al – Kitaabah).
Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya.[1]
Adapun yang menyangkut konsep dasar belajar bahasa Arab yang ada kaitannya langsung dengan ilmu jiwa belajar bahasa Arab ini ditinjau dari segi psikologis yang menjadi indikator untuk mengetahui sejauh mana seseorang itu memiliki mental belajar bahasa Arab di zaman sekarang ini.
Oleh karena itupula konsep dasar belajar bahasa Arab ini sangat tergantung dan terpacu pada persiapan sejak dini dan ini adalah pondasi ataupun pola dasar seseorang untuk memiliki mental belajar bahasa Arab. Adapun demikian sebagaimana keterkaitannya langsung dengan dampak psikologis dengan konsep dasar belajar bahasa Arab menjadi motivasi ataupun sebaliknya untuk para pelajar bahasa Arab.

B.     PEMBAHASAN
1.      Defenisi Belajar
Sebagian orang berpendapat bahwa belajar adalah samata mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran.[2] Disamping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis.[3]
Dengan demikian adapula beberapa ahli yang mendefinisikan tentang belajar diantaranya yaitu: Gagne, dalam buku the conditions of learning (1977) menatakan bahwa: “ belajar terjadi apabila suatu situasi bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
Adapun demikian Morgan dalam buku Introduting to psikology (1978) mengemukakan: “ belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan dan pengalaman.”
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa:
a.       Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi ada juuga kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjai melalui latihan atau pengalaman; dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kemtangan tidak dianggap sebagai hasil belajar;seperti perubahan yang terjadi diri seseorang bayi.
c.       Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.[4]

2.      Hakikat dan Teori Belajar Bahasa Arab.
Satiap bahasa adalah komunikatif bagi para penuturnya. Dilihat dari sudut pandang ini tidak ada bahasa yang lebih unggul dari pada bahasa yang lain. Maksudnya bahwa bahasa memiliki kesamarataan dalam statusnya, yaitu sebagai alat komunikasi, setiap komunikasi tentu saja menuntut pemahaman diantara perilaku komunikasi.[5]
Maka oleh karena itu kita selaku konsumen dalam artian pemakai bahasa arab dalam kegiaan tertentu sangatlah memerlukan “mumaratsah” yang artinya membiasakan diri untuk berbahasa, atau bergulat dengan bahasa arab supaya bahwa berusaha untuk mumbuat para audians (mustami’uuna) paham akan apa yang kita ungkapkan.
Adapun menyangkut teori belajar bahasa arab ialah menyangkut komponen-komponen ataupun apasaja yang menyangkut teori belajarnya.
Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip-prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.[6]
3.         Ciri-Ciri Belajar Bahasa Arab
            Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik. Karakteristik perilaku belajar ini dalam beberapa pustaka rujukan, antara lain psikologi pendidikan oleh Surya (1982), disebut juga sebagai prinsip-prinsip belajar. Diantara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah:
1.      Perubahan Intensional.
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau paraktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan sesuatu, keterampilan dan seterusnya.[7].
Adapun demikian perubahan Intensional ini berhubungan dengan proses belajar bahasa Arab dimana para pelajar dengan sadar ia mengalami proses perubahan yang terjadi dalam dirinya. Hal ini dipengaruhi atas dasar lingkungan yang bernuansa Arabic seumpamanya: pesantren, dayah, atau lembaga lainnya yang bernuansa Arabic.
Namun demkian, perlu pula dicatat bahwa kesengajan belajar itu, menurut Anderson (1990) tidak penting, yang penting cara mengelola informasi yang diterima siswa pada waktu pembelajaran terjadi.[8]
2.      Perubahan Positif dan Aktif.
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan penambahan, yakni diperolehnya suatu yang baru (suatu pemahaman dan keterampilan baru) yang lebih baik dari pada apa yang telah ada sebelumnya. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan (misalnya, bayi yang bisa merangkak setelah bisa duduk), tetapi karna siswa itu sendiri.[9] Sama halnya yang terjadi di lingkungan kita saat ini yaitu dimana terlihat jelas indikator yang menunjukkan turunnya proses belajar bahasa arab kita sehingga kita perlu untuk meningkatkannya dengan cara melakukan perubahan positif dan aktif.
3.      Perubahan Efectif dan fungsional
Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya, perubahan tersebut membawa pengaruh, makna, dan manfaat tertentu bagi siswa. Selain itu, perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan.[10]
4.      Jenis-jenis Belajar Bahsa Arab.
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam aspek materi dam metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam, diantaranya adalah:
a.       Belajar abstrak
Belajar abstrak  ialah belajar ang menggunakan cara-cara berpikir abstrak, tujuannya  adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi.
b.      Belajar keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot/neuromuscular. Tujuannya adalah untuk menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan-latihan intensif dan teratur amat diperlukan.
Oleh karena itu belajar sosial ini yang berhubungan dengan proses belajar bahasa arab tidak lepas kaitannya dengan belajar keterampilan yang sedang berjalan untuk dapat beradaptasi dengan orang/komunikan yang ada di sekeliling kita, misalnya suatu komunitas atau lingkungan yang bernuansa bahasa Arab, kita sangat dituntut untuk bisa dalam artian berketerampilan serta berusaha untuk beradaptasi dengan bi ah/lingkungan tersebut.
a.       Belajar pemecahan masalah
Belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan koknitif untuk memecahkan masalah secara rasional. Adapun untuk kita terapkan dalam masalah ini adalah bagaimana cara kita untuk memecahkan masalah masalah yang ada dalam ruang lingkup bahasa arab. Maka oleh karena itu kita sangat dituntut untuk sistematis, logis, teratur dalam belajar utuk memecahkan masalah dalam ruang lingkup Arabic.
b.      Belajar Rasional
Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional(sesuai dengan akal sehat). Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
c.       Belajar kebiasan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau kebaikan kebiasaankebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri teladan dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman atau ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).
d.      Belajar Pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga dappat diartikan sebagai sebuah progarm belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkn kegiatan investigasi dan exsprerimen (Reber,1988).[11].
5.      Aktifitas-aktifitas belajar Bahasa Arab
Aktivitas belajar adalah seluruh aktivitas siswa dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. Kegiatan fisik berupa ketrampilan-ketrampilan dasar sedangkan kegiatan psikis berupa ketrampilan terintegrasi.[12]
Adapun dengan demikian proses belajar sangat terpacu dengan adanya aktifitas-aktifitas yang pada dasarnya menjadi indikator tersendiri selama proses belajar berlangsung. Oleh karena itu aktifitas-aktifitas belajar bahasa Arab sangat tergantung dengan metoode-metode yang akan diterapkan oleh guru, dikarenakan didalamnya (metode) ada unsur-unsur yang membuat siswa dalam keadaan beraktifitas, dalam artian tidak luput dari aktifitas belajar, maka oleh karena itu segala aktifitas belajar bahasa Arab tidak terlepas dari empat kemahiran yang menjadi pondasi utama segala aktifitas belajar bahasa Arab.
Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas. Itulah mengapa aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar”(Sardiman, 2001:93).[13]















     





[1] Yayat hidayat,Studi prinsip dasar metode pengajaran bahasa Arab, di akses melalui situs: www.google.com, pada tanggal 27 Februari 2013.
[2] Muhibbin syah, psikologi pendidikan dengan pendekatan baru (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hal 89.
[3] Ibid, hal 89.
[4] M.Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hal 84-85.
[5] Acep Hermawan, metodologi pembelajaran bahasa Arab, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya offsel, 2011), 58, diakses melalui situs www.google.com, pada tanggal 1 Maret,2013.
[6] Muhibbin syah, psikologi pendidikan dengan pendekatan baru (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hal 105.
[7] Ibid, hal 116.
[8] Ibid, hal 117.
[9] Ibid, hal 117.
[10] Ibid, hal 177.
[11] Ibid, hal 122 s/d 124
[12] Ketut juliantara,Aktifitas Belajar, diakses melalui situs www.google.com, pada tanggal 2 Maret 2013.
[13] Ketut juliantara,Aktifitas Belajar, diakses melalui situs www.google.com, pada tanggal 2 Maret 2013.

Selasa, 28 Mei 2013

Wujud Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam


BAB I
Pendahuluan
A.    Latar belakang
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia.
Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Berikut akan kami bahas lebih mendalam lagi, dalam makalah kami yang berjudul Wujud Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam.





BAB II
Wujud Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia.
Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.
1. Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana. Seperti  Masjid Aceh merupakan salah
satu masjid kuno di Indonesia.
 
Gambar 1. Masjid Aceh merupakan salah satu masjid kuno di Indonesia 
Masjid adalah tempat ibadahnya orang Islam. Di Indonesia, istilah masjid biasanya menunjuk pada tempat untuk menyelenggarakan shalat jumat.
Masjid di Indonesia pada zaman madya biasanya mempunyai cirri khas tersendiri, diantaranya :
  1. Atapnya berbentuk “atap tumpang” yaitu atap bersusun. Jumlah atap tumpang itu selalu ganjil, 3 atau 5 seperti di Jawa dan Bali pada masa Hindu.
  2. Tidak adanya menara. Pada masa itu masjid yang mempunyai menara hanya masjid Banten dan masjid Kudus.
  3. Biasanya masjid dibuat dekat istana, berada di sebelah utara atau selatan. Biasanya didirikan di tepi barat alun-alun. Letak masjid ini melambangkan bersatunya rakyat dan raja sesama makhluk Allah. Selain di alun-alun, masjid juga dibangun di tempat-tempat keramat, yaitu makam wali, raja atau ahli agama.
Bentuk perkembangannya sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang kebanyakan masjid atasnya berbentuk kubah dan ada menara, ini merupakan pengaruh dari Timur tengah dan India.
Selain bangunan masjid, bentuk akulturasi juga terlihat dari makam, seperti Makam Sendang Duwur (Tuban).
Gambar 2. Makam Sendang Duwur (Tuban)
Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:
a. makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
b. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing, nisannya juga terbuat dari batu.
c. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
d. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
e. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur.
2. Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, misalnya ragam hias. ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.
Gambar 3. Kera yang disamarkan
3. Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.
Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia.
Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.
Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
a. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
b. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.
Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.
Kedatangan Islam ke Indonesia membawa pengaruh cukup besar bagi kebudayaan Indonesia. Tetapi bukan berarti menghapus semua yang ada sebelumnya. Misalnya, kesenian wayang yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Bahkan wayang ini digunakan para wali untuk menyebarkan agama Islam.
4. Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha. Tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya.
Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti
halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.

5. Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).
-nama bulan yang digunakan adalah 12, sama dengan penanggalan Hijriyah (versi Islam). Demikian pula, nama-nama bulan mengacu pada bahasa bulan Arab yaitu Sura (Muharram), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadilawal (Jumadil Awal), Jumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadhan), Sawal (Syawal), Sela (Dzulqaidah), dan Besar (Dzulhijjah). Namun, penanggalan hariannya tetap mengikuti penanggalan Saka karena penanggalan harian Saka saat itu paling banyak digunakan penduduk Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.
Selain akulturasi budaya, Islam juga berpengaruh bagi Indonesia di bidang bahasa dan juga di bidang pendidikan.
1. Pengaruh Islam di Bidang Bahasa

Konversi Islam nusantara awalnya terjadi di sekitar semenanjung Malaya. Menyusul konversi tersebut, penduduknya meneruskan penggunaan bahasa Melayu. Melayu lalu digunakan sebagai bahasa dagang yang banyak digunakan di bagian barat kepulauan Indonesia. Seiring perkembangan awal Islam, bahasa Melayu pun memasukkan sejumlah kosakata Arab ke dalam struktur bahasanya. Bahkan, Taylor mencatat sekitar 15% dari kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi bahasa Arab. Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke dalam huruf Arab, dan ini kemudian dikenal sebagai huruf Jawi.

Bersamaan naiknya Islam menjadi agama dominan kepulauan nusantara, terjadi sinkretisasi atas bahasa yang digunakan Islam. Sinkretisasi terjadi misalnya dalam struktur penanggalan Çaka. Penanggalan ini adalah mainstream di kebudayaan India. Secara sinkretis, nama-nama bulan Islam disinkretisasi Agung Hanyakrakusuma (sultan Mataram Islam) ke dalam sistem penanggalan Çaka. Penanggalan çaka berbasis penanggalan Matahari (syamsiah, mirip gregorian), sementara penanggalan Islam berbasis peredaran Bulan (qamariah). Hasilnya pada 1625, Agung Hanyakrakusuma mendekritkan perubahan penanggalan Çaka menjadi penanggalan Jawa yang sudah banyak dipengaruhi budaya Islam. Nama-nama bulan yang digunakan tetap 12, sama dengan penanggalan Hijriyah (versi Islam). Penyebutan nama bulan mengacu pada bahasa Arab seperti Sura (Muharram atau Assyura dalam Syiah), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadilawal (Jumadil Awal), Jumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadhan), Sawal (Syawal), Sela (Dzulqaidah), dan Besar (Dzulhijjah). Namun, penanggalan hariannya tetap mengikuti penanggalan Çaka sebab saat itu penanggalan harian Çaka paling banyak digunakan penduduk sehingga tidak bisa digantikan begitu saja tanpa menciptakan perubahan radikal dalam aktivitas masyarakat (revolusi sosial).

Selain pembagian bulan, bahasa Arab merambah ke dalam kosakata. Sama dengan sejumlah bahasa Sanskerta yang diakui selaku bagian dari bahasa Indonesia, kosakata Arab pun akhirnya masuk ke dalam struktur bahasa Indonesia, yang sedikit contohnya sebagai berikut:

Kosakata Indonesia yang dipengaruhi Bahasa Arab


Arab
Indonesia

Arab
Indonesia
isnain
Senin (dua)

`ajā'ib
Ajaib
tsalasa
Selasa (tiga)

`aib
Aib (malu)
arbain
Rabu (empat)

Ahl
Ahli
kamis
Khamis (lima)

`ādil
Adil
jumu’ah
Jumat (ramai)

`abd
Abdi
badan
Tubuh

abadī
Abadi
yatim
Yatim

Abad
Abad
wujud
Wujud (rupa)

dahsha
Dahsyat
usquf
Pemimpin gereja

dalīl
Dalil (bukti)
umr
Umur

ghaira
Gairah (hasrat)
daraja
Derajat

wajh
Wajah
darura
Darurat

wājib
Wajib
awwal
Awal

walīy
Wali
atlas
Atlas

waṣīya
Wasiat
asli
Asli

wilāya
Wilayah
‘amal
Amal

yaqīn
Yakin
ala
Alat

ya`nī
Yakni
alama
Alamat

Nashichah
Nasehat/nasihat
alami
Alami

Ijazah
Ijazah/ijasah


Bahasa Arab ini bahkan semakin signifikan di abad ke-18 dan 19 di Indonesia, di mana masyarakat nusantara lebih familiar membaca huruf Arab ketimbang Latin. Bahkan, di masa kolonial Belanda, mata uang ditulis dalam huruf Arab Melayu, Arab Pegon, ataupun Arab Jawi. Tulisan Arab pun masih sering diketemukan sebagai keterangan dalam batu nisan. 

2. Pengaruh Islam di Bidang Pendidikan 

Salah satu wujud pengaruh Islam yang lebih sistemik secara budaya adalah pesantren. Asal katanya pesantren kemungkinan shastri (dari bahasa Sanskerta) yang berarti orang-orang yang tahu kitab suci agama Hindu. Atau, kata cantrik dari bahasa Jawa yang berarti orang yang mengikuti kemana pun gurunya pergi. Fenomena pesantren telah berkembang sebelum Islam masuk. Pesantren saat itu menjadi tempat pendidikan dan pengajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk, kurikulum dan proses pendidikan pesantren diambilalih Islam. 

Pada dasarnya, pesantren adalah sebuah asrama tradisional pendidikan Islam. Siswa tinggal bersama untuk belajar ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang disebut Kyai. Asrama siswa berada di dalam kompleks pesantren di mana kyai berdomisili. Dengan kata lain, pesantren dapat diidentifikasi adanya lima elemen pokok yaitu: pondok, masjid, santri, kyai, dan kitab-kitab klasik (kitab kuning). Seputar peran signifikan pesantren ini, Harry J. Benda menyebut sejarah Islam ala Indonesia adalah sejarah memperbesarkan peradaban santri dan pengaruhnya terhadap kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi di Indonesia. Melalui pesantren, budaya Islam dikembangkan dan beradaptasi dengan budaya lokal yang berkembang di sekitarnya tanpa mengakibatkan konflik horisontal signifikan.