Nama :
Ibnu Abdi Al-Qayyim
NIM :
29173589
Fakultas/Prodi : Tarbiyah/ Pendidikan Bahasa Arab
Semester/Ruang : I (satu) / A3
Dosen Pembimbing : Prof. Drs. Yusni Saby, MA., Ph.D
Midtrem MK Metodologi Kajian keislaman
1.
Islam
kini dikaji banyak orang, muslim dan non muslim. Apa motivasi sehingga fenomena
tersebut begitu menonjol terutama sesudah tahun 1970an? Untuk kepentingan apa
saja? Jelaskan uraian saudara!
Jawaban:
Motivasi seseorang atau golongan mengkaji atau mempelajari Islam
adalah:
1.
Untuk
di’amalkan.
Islam adalah agama yang Haq, ajaran-ajarannya berupa Al-Qur;an dan
Hadist adalah sebuah pengajaran kepada umat dalam menjalani kehidupan dunia
untuk memperoleh kehidupan akhirat, dan sudah sepatutnya agama Islam ini diamalkan
dalam kehidupan manusia
2.
Untuk
kepentingan da’wah
Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yang akan memberikan keberuntungan dan
keselamatan bagi kehidupan manusia. Karena hal itu maka Islam haruslah di
da’wahkan, disosialisasikan untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.
3.
Untuk
kepentingan ilmu pengetahuan
Islam yang ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist sangatlah
berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan, karena
keduanya merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan, baik itu ilmu aqidah,
tauhid, fiqih, tasawuf, politik, ekonomi, anstronomi, dan lain-lain.
4.
Untuk
kepentingan politik
Tidak sedikit orang yang mengkaji Islam untuk kepentingan politik, karena
paham politik dalam ajaran Islam sangat bagus. Namun ada juga yang memiliki
niat lain, seperti ingin menjadi DPR, MPR, geuchik, camat, dan pejabat yang
lainnya yang mengharuskannya mengjaji Islam dan mengamalkan Islam untuk bisa
terpilih dan menjabat.
5.
Untuk
kepentingan ekonomi dan budaya
Seperti halnya politik, sistem ekonomi dan budaya dalam ajaran
Islam sangat lah bagus untuk diaplikasikan dalam kehidupan, dan tidak sedikit
negara-negara eropa yang menerapkan sistem ekonomi Islam.
2.
Anda
orang beragama. Apa itu agama? Bagaimana pula mendefinisikan agama Islam? Apa
implikasinya? Jelaskan uraian saudara!
Jawaban:
Agama berasal dari bahasa arab yaitu addien yang berarti syari’at.
Dr.Yusuf Al-Qardhawi mengutip dari Prof. Dr. Muhammad Abdullah Darraz yang
telah mendefinisikan agama dalam bukunya yang berjudul Addien. Menurut beliau
Addien adalah keyakinan terhadap eksistensi (wujud) sesuatu dzat-ghaib yang
maha tinggi, ia memiliki perasaan dan kehendak, ia memiliki wewenang untuk
mengurus dan mengatur urusan yang berkenaan dengan nasib manusia.[1]
Pengertian ini berdasarkan pengamatan jika kita melihat addien dari sisi
kejiwaan (psikologis) yang berarti “keyakinan keagamaan”.
Sedangkan menurut saya Agama itu adalah Ajaran-ajaran yang yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan
peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang
berhubungan dengan pergaulan manusia dengan manusia serta manusia dengan lingkungannya.
Agama Islam secara etimologi berasal dari kata bahasa arab yaitu salima
yang berrti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata tersebut terbentuk kata
aslama, yuslimu, islaman, yang berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh dan
taat.
Jadi, agama Islam dapat didefinisikan sebagai Agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-NYA
(Muhammad SAW). Nabi segenap ummat manusia agar mereka memperoleh kebahagiaan
didunia dan akhirat apabila mengikuti ajaran-ajaran dalam Islam yaitu berupa
Al-Qur’an dan Hadist.
Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia,
baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah menyuruh
manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah berfirman. “Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah
yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan
pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah
seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang
tuanyalah yang men-jadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Tidak mungkin,
Allah yang telah menciptakan manusia, kemudian Allah memberikan beban kepada
hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak sanggup lakukan.
Tujuan islam yang utama yaitu bertauhid kepada Allah
SWT. Tauhid yaitu berkeyakinan bahwa Allah itu esa tak ada sekutu bagi-NYA. Keesaan
yang dikehendaki islam adalah esa dalam segala hal esa pada dzat maupun
sifat-NYA. Dan tujuan Islam yang lainnya adalah mengubah Akhlak manusia menjadi
lebih bermoral, sebagaimana tujuan utama Rasulullah diutus yaitu untuk
menyempurnakan Akhlak. Apabila kedua tujuan Islam ini telah dilaksanakan dengan
sepenuhnya oleh umat Islam, saya yakin Islam akan berjaya kembali seperti pada
zaman Rsulullah dan sahabat serta pendahulu kita yang pada masanya Islam sangat
berkembang dan sangat dihormati dan disegani oleh umat-umat yang lainnya. Jadi,
inti dari ajaran agama Islam adalah pendidikan, baik pendidikan aaqidah,
syari’at, tasawuf dan yang lainnya, yang semua itu membentuk karakter manusia
yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Implikasi dari agama Islam adalah mengubah manusia menjadi manusia
yang membawa rahmat bagi manusia lain, yang bermanfaat bagi manusia lainnya,
dengan cara yang sesuai dengan syari’at islam itu sendiri.
3.
Pada
dasarnya agama Islam ini sejak azali dirancang untuk rahmatan lil ‘alamin,
dan itu bisa dicapai kalau penganutnya merasa bersaudara, kompak, bersatu. Tapi
kenyataannya dalam perjalanan sejarah ia telah menimbulkan sengketa, karena
adanya perbedaan pemahaman. Jelaskan bagaimana sebenarnya apakah ada perintah
hanya boleh SATU paham, tidak boleh beda! Dan siapa jurinya kalau ada beda
paham?
Jawaban:
Semua mempunyai argumen masing-masing. Mengedapankan fikrah dan
manhaj masing-masing. Pedoman hidup umat Islam sebenarnya sama yaitu Al-Qur’an
dan sunnah, tujuannya pun sama. Hanya saja, berada di perahu yang berbeda,
nahkoda kapal mempunyai strategi masing-masing untuk melakukan navigasi dan
mengarahkan awak kapal untuk berlayar pada tujuan yang sama tadi.
Sebagai hamba yang beriman, kita diperintahkan untuk bisa menerima
bahwa adanya berbagai macam perbedaan pendapat atau paham itu sudah merupakan
ketetapan Allah. Dan juga sudah seharusnya juga kita menyikapi hal ini dengan
wajar. Dalam arti tetap menjalin interaksi dan toleransi terhadap berbagai
macam golongan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam.
Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang
baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang
disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan
berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.
Untuk bidang hukum Islam, misalnya. Kita bisa melihat kitab Al
Mughni karya Imam Ibnu Qudamah. Pada terbitannya yang terakhir, kitab ini
dicetak 15 jilid. Kitab ini dapat dianggap sebagai ensiklopedi berbagai
pandangan dalam bidang hukum Islam dalam berbagai mazhabnya. Karena Ibnu
Qudamah tidak membatasi diri pada empat mazhab yang populer saja. Tapi ia juga
merekam pendapat-pendapat ulama lain yang hidup sejak masa sahabat, tabi’in dan
tabi’ tabi’in.
Contoh ini berlaku pada semua disiplin ilmu Islam yang ada. Tidak
terbatas pada ilmu hukum saja, seperti yang umumnya kita kenal, tapi juga pada
tafsir, ulumul qur’an, syarah hadits, ulumul hadits, tauhid, usul fiqh, qawa’id
fiqhiyah, maqashidus syariah, dan lain-lain.
Dan yang menjadi juri bagi perbedan ini adalah Allah SWT. Yang
apabila benar mendapat pahala 10 (sepuluh) dan apabila salah pun tetap mendapat
pahala 1 (satu). Sedangkan manusia tidak berhak untuk menghakimi suatu golongan
yang lainnya.
4.
Mazhab,
aliran, sekte dalam memahami Islam ada beberapa: mazhab aqidah, mazhab fiqih,
mazhab tasawuf, mazhab filsafat, mazhab politik, dsb. Dari macam-macam mazhab
itu berkembang lagi menjadi beberapa mazhab, aliran, tariqat, sekte, dan
nama-nama yang berarti alur pikir, school of thought. Uraikan masing-masing
kelompok dari mazhab-mazhab tersebut dengan segala implikasinya!
Jawban:
Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang bersifat qath’i yang
bersumber dari Allah SWT., kemudian sumber kedua adalah sunnah yang berasal
dari nabi Muhammad SAW. yang bersifat dhanni, dan yang ketiga adalah ijtihad
para ulama yang berupa mazhab/aliran,dsb. yang bersifta dhanni.
Mazhab dalam islam ada sangatlah banyak, dan itu semua terdiri dari
bagian-bagiannya sendiri (mazhab aqidah, mazhab fiqih, mazhab tasawuf, mazhab
filsafat, mazhab politik, dsb).
Mazhab fiqh, yang populer ada 4 mazhab, yaitu mazhab hanafi,
mazhab maliki, mazhab syafi’i dan mazhab hambali.
Mazhab aqidah ada beberapa: seperti mazhab
asy’ariyah (dinisbatkan kepada abul hasan al-asy’ari), mazhab murji’ah,mazhab
jabariyah (pertama kali diperkenalkan oleh ja’d bin dirham
kemudian disebarkan oleh jahm bin shafwan dari khurasan), mazhab mu’tazilah (pendirinya Abu Huzaifah Washil ibn Atha
al-Gazzal), mazhab jahmiyah (nisbat kepada Jahm bin Shafwan) yang
belajar pada Ja’d bin Dirham. Ja’d bin Dirham belajar pada Thalut. Thalut
belajar pada Labib bin al-`Asham, seorang Yahudi, maka jadilah mereka semua
murid-murid Yahudi. Ajaran Jahmiyyah adalah tidak menetapkan nama-nama dan
sifat-sifat bagi Allah, dan mereka beranggapan bahawa Allah adalah zat yang
kosong dari nama-nama dan sifat-sifat, kerana menetapkan nama-nama dan
sifat-sifat menurut anggapan mereka akan mengakibatkan kesyirikan dan
berbilangnya sesembahan. Perkataan mereka itu adalah syubhat dan kekeliruan
yang terkutuk.
Mazhab tasawuf ada beberapa yang populer: seperti mazhab tareqat qadariyah
(aliran yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani), mazhab Tarekat Naqsabandiyah
(pendirinya yaitu Muhammad bin Baha’uddin Al-Huwaisi Al Bukhari, mazhab chistiyah
(Komunitas Chistiyah ini, berawal di Chisti, Khurasan, khususnya menggunakan
musik dalam latihan-latihan mereka), mazhab Tarekat Sadziliyah
(pendirinya Abdul Hasan Ali Asy-Syazili) a liran ini pada masa sekarang dapat
dijumpai di Kenya, Tanzania, Timur tengah, Srilangka, dan tempat lain termasuk
Amerika barat dan utara. Ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat
ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari
tulisan-tulisan para tokohnya. Mazhab Tarekat Rifaiyah (pendirinya Abul
Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifai) Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan
zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang
bertalu-talu Zikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana
mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain
berguling-guling dalam bara api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak
mempan oleh senjata tajam.
Mazhab/ aliran politik pun ada beberapa macam sepeti politik demokrasi
(sistem politik yang mendasarkan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip
demokrasi), politik oligarki (sistem politik yang mendasarkan pada
pemerintahan yang kekuasaan negaranya ada di tangan sejumlah orang (kelompok
elit) dan selalu mengusahakan dengan segala cara agar rakyat dapat dikendalikan
dan dikuasainya), politik otoriter (sistem politik yang mendasarkan pada
sistem otoritas yang telah mapan “establish authority”), politik totaliter
(sistim politik dalam suatu negara yang pemerintahannya mendasarkan: Kekuasaan
tak terbatas, Tidak menerima adanya oposisi, Melakukan kontrol yang sangat
ketat terhadap warga negaranya), politik otokrasi tradisional (sistem
politik yang pemerintahannya memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut:
Kurang menekankan pada persamaan tetapi lebih menekankan ada stratifikasi
ekonomi, Kebebasan politik individu kurang dijamin dan lebih menekankan pada
perilaku yang menuruti kehendak kelompok kecil penguasa, Kebutuhan moril dan
nilai-nilai moral lebih menonjol dari pada kebutuhan materil, Lebih menekankan
pada kolektivisme yang berdasarkan kekerabatan dari pada individualisme).
Dan masih banyak lagi mazhab-mazhab dalam Islam yang terpecah dari
berbagai macam bidang ilmu lainnya. Namun semua mazhab, aliran atau tareqat itu
implikasinya bertujuan kepada kebaikan, hanya cara dalam mencapai kebaikannya
yang berbeda-beda.
5.
Diantara
orang mempelajari agama Islam adalah untuk diamalkan (khususnya bagi
pemeluknya). Uraikan bagaimana fenomena sikap pemeluk pada umumnya dalam
mensikapi agamanya ini! Setia? Tidak setia? Sejauh mana amalan mereka telah
menghasilkan kemaslahatan bersama? Jelaskan uraian saudara dengan alasan yang
baik!
Jawaban:
Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dan agar itu tercapai
pemeluknya harus benar-benar mengamalkan seluruh ajarab Islam itu. Namun
apabila kita melihat dan menganalisa fenomena yang terjadi pada umat Islam
sekarang ini khususnya di indonesia dan di lingkungan sekitar kita, maka akan
tampak kenyataan yang berbeda dari harapan, hal ini dibuktikan dengan masih
banyaknya tingkat kriminalitas seperti pencurian, pembegalan, pemerkosaan
bahkan pembunuhan, masih banyak perilaku sosial yang tidak sesuai dengan
norma-norma Islam seperti adanya diskotik, tempat-tempat pelacuran dan
perjudian dan lain-lain, juga masih tingginya tingkat kemiskinan yang mendera
umat Islam yang merupakan konsekuensi dari kurang adanya kepedulian sosial yang
berdampak pada lemahnya umat Islam.
Sangat banyak saya jumpai umat Islam yang bahkan merasa tidak
berdosa meninggalkan sesuatu yang wajib baginya seperti shalat, puasa, zakat,
dan lain-lain, ini disebabkan karena lemahnya Iman pemeluk Islam. Dampak dari
ini semua adalah munculnya penyakit hati, malas, dan lain sebagainya.
Solusinya adalah mereka bertaubat dan kembali mengamalkan ajaran
Islam, yang berfungsi sebagai pendidikan
kepada pemeluknya agar bersikap baik, peduli sesama, disiplin, jujur, amanah.
6.
Bagaimana
relasi antara agama (Islam), pemeluk (muslim), dan kualitas (prilaku islami)?
Bagaimana cara mencapai kualitas yang terakhir ini sehingga tujuan rahmatan
lil ‘alain tercapai?
Jawaban:
Seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, bahwa muslim saat ini
sudah kurang menerapkan ajaran Islam, dalam artian relasi yang tidak baik
antara muslim dan agama Islam.
Jadi, agar kualitas (perilaku islami) dapat diperoleh maka
tergantung setiap idividu muslim itu sendiri, masih mau dan sanggupkah
menerapkan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin? Apabila Muslim telah
sanggup untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaffah, maka akan terciptanya
kedamaian, persatuan, persaudaraan, tidak hanya sesama muslim bahkan dengan non
muslim sekalipun.
Pada hakikatnya manusia sangat membutuhkan agama Islam, karena
manusia itu sangatlah lemah, dan kelemahan manusia yang terbesar adalah
kematian. Manusia mempunyai akal, dengan akal ini manusia berusaha menganal
alam dan kedudukannya di alam serta tujuan yang harus dicapainya. Hanya saja,
akal bisa tersesat dan memang sering tersesat ketika berusaha untuk mengetahui
apa yang di luar kemampuanya itu.[2]
Karena keterbatasan itulah maka manusia sangat membutuhkan agama (Islam), dan
membangun relasi yang baik dengan Islam akan berdampak besar bagi kehidupannya
di dunia baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah dimuka bumi ini.
Cara memperoleh dan meningkatkan kualitas (prilaku islami) dengan
Islam yaitu bisa diperoleh dengan 3 prinsip.
1.
Prinsip
pertama adalah iman ilmu
Dengan
iman dan ilmu manusia akan baik, dan derajatnya akan diangkat oleh Allah,
sebagaimana firman Allah dalam surat al-mujadalah ayat 11 (Allah SWT. akan
mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman dan berilmu diantaramu beberapa
derajat).
2.
Prinsip
kedua adalah kesungguhan
Mencari
ilmu dan meningkatkan keimanan serta istiqamah dalam ketaqwaan haruslah
dibarengi dengan kesungguhan. Tidak ada satu hal apapun yang dapat diperoleh
dengan tanpa usaha. Allah telah menjanjikan bahwa akan dibukakannya pintu
kemudahan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, sebagaimana firmannya dalam
surat Al-‘Ankabut: 69.
3.
Prinsip
ketiga adalah keiklasan
Seseorang
muslim harus iklas dalam berbuat apapun. Semua dilakukan semata-mata mengharap
ridha Allah. Dengan keiklasan manusia akan selalu berbuat baik tanpa
mengharapkan imbalan dari orang lain.
7.
Dalam
kehidupan manusia yang berbagai dimensi ini ada aspek sakral dan ada pula yang
profone. Uraikan jawaban saudara dengan contoh yang jelas! Mutlakkah status
sakral dan profone ini atau relative dalam persepsi masyarakat?
Jawaban:
Sakral itu sesuatu mutlaq, yang wajib dipegang erat, tidak boleh
diubah oleh masyarakat. Contohnya shalat.
Profone itu adalah budaya, sesuatu yang diciptakan dan dikembangkan
oleh manusia untuk menambah nilai lain bagi sesuatu yang sakral. Jadi profone
ini adalah relatif dan dapat terus berkembang bersamaan dengan kemajuan
berfikir manusia.
Contohnya, shalat adalah sesuatu yang sakral, sedangkan yang
profone adalah memakai peci, ada juga yang memakai sarung, jubah dan lain-lain.
8.
Mengapa
sekarang muslim begitu LEMAH dalam ekonomi, politik, dan teknologi? Adakah
faktor agama yang telah menghambat kemaslahatan itu. Atau faktor apa?
Jawaban:
Faktor yang menghambat kemajuan ekonomi, politik dan teknologi
adalah individu setiap muslim itu sendiri, muslim saat ini begitu malas untuk
membahas mempelajari, menciptakan dan mengembangkan sesuatu yang baru dalam hal
teknologi. Juga dalam bidang ekonomi dan politik, yang sebenarnya paham ajaran
agama Islam yang sangat baik dalam kedua hal ini dibandingkan dengan paham yang
lainnya seperti paham liberal, sekuler, dan lain-lain. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya orang-orang non muslim yang justru mempelari bahkan
mengamalkan ajaran islam dalam bidang ekonomi dan politik. Bahkan Afghani dan
Muhammad ‘Abduh pernah meneliti mengenai hal ini, dan kemudian beliau
mengatakan: ketika saya pergi kenegeri orang saya melihat Islam, tapi tidak
menjumpai muslim dan ketika saya pulang ke kampung halaman, saya menjumpai
muslim tetapi saya tidak melihat Islam.
Hal tersebut dapat diartikan bahwasanya sedikit sekali pemeluk
(Islam) yang benar-benar menerapkan ajaran Islam, saat ini Islam hanyalah
symbol, sedangkan subtansi dari Islam itu sendiri diabaikan oleh kebanyakan
Umat Islam. Umat Islam saat ini sibuk dengan mengurusi kesenangan dunia. Ada
dua faktor besar yang menyebabkan Umat Islam begitu lemah, yaitu kebodohan dan
cinta dunia.
Islam sudah ditata oleh Allah dengan ajaran-ajarannya yang sangat
luar biasa dalam segala aspek, tercakup aspek ekonomi, politik, dan teknologi.
Hanya saja umat Islam tinggal mempelajari dan mengamalkanya.