Senin, 20 November 2017

Midtrem exam Met. Kajian Keislaman

Nama                           : Ibnu Abdi Al-Qayyim
NIM                            : 29173589
Fakultas/Prodi             : Tarbiyah/ Pendidikan Bahasa Arab
Semester/Ruang          : I (satu) / A3
Dosen Pembimbing     : Prof. Drs. Yusni Saby, MA., Ph.D

Midtrem MK Metodologi Kajian keislaman
1.      Islam kini dikaji banyak orang, muslim dan non muslim. Apa motivasi sehingga fenomena tersebut begitu menonjol terutama sesudah tahun 1970an? Untuk kepentingan apa saja? Jelaskan uraian saudara!
Jawaban:
Motivasi seseorang atau golongan mengkaji atau mempelajari Islam adalah:
1.      Untuk di’amalkan.
Islam adalah agama yang Haq, ajaran-ajarannya berupa Al-Qur;an dan Hadist adalah sebuah pengajaran kepada umat dalam menjalani kehidupan dunia untuk memperoleh kehidupan akhirat, dan sudah sepatutnya agama Islam ini diamalkan dalam kehidupan manusia
2.      Untuk kepentingan da’wah
Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin,  yang akan memberikan keberuntungan dan keselamatan bagi kehidupan manusia. Karena hal itu maka Islam haruslah di da’wahkan, disosialisasikan untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.
3.      Untuk kepentingan ilmu pengetahuan
Islam yang ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist sangatlah berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan, karena keduanya merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan, baik itu ilmu aqidah, tauhid, fiqih, tasawuf, politik, ekonomi, anstronomi, dan lain-lain.

4.      Untuk kepentingan politik
Tidak sedikit orang yang mengkaji Islam untuk kepentingan politik, karena paham politik dalam ajaran Islam sangat bagus. Namun ada juga yang memiliki niat lain, seperti ingin menjadi DPR, MPR, geuchik, camat, dan pejabat yang lainnya yang mengharuskannya mengjaji Islam dan mengamalkan Islam untuk bisa terpilih dan menjabat.
5.      Untuk kepentingan ekonomi dan budaya
Seperti halnya politik, sistem ekonomi dan budaya dalam ajaran Islam sangat lah bagus untuk diaplikasikan dalam kehidupan, dan tidak sedikit negara-negara eropa yang menerapkan sistem ekonomi Islam.

2.      Anda orang beragama. Apa itu agama? Bagaimana pula mendefinisikan agama Islam? Apa implikasinya? Jelaskan uraian saudara!
Jawaban:
Agama berasal dari bahasa arab yaitu addien yang berarti syari’at. Dr.Yusuf Al-Qardhawi mengutip dari Prof. Dr. Muhammad Abdullah Darraz yang telah mendefinisikan agama dalam bukunya yang berjudul Addien. Menurut beliau Addien adalah keyakinan terhadap eksistensi (wujud) sesuatu dzat-ghaib yang maha tinggi, ia memiliki perasaan dan kehendak, ia memiliki wewenang untuk mengurus dan mengatur urusan yang berkenaan dengan nasib manusia.[1] Pengertian ini berdasarkan pengamatan jika kita melihat addien dari sisi kejiwaan (psikologis) yang berarti “keyakinan keagamaan”.
Sedangkan menurut saya Agama itu adalah Ajaran-ajaran yang yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan manusia serta manusia dengan lingkungannya.
Agama Islam secara etimologi berasal dari kata bahasa arab yaitu salima yang berrti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata tersebut terbentuk kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat.
Jadi, agama Islam dapat didefinisikan sebagai Agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-NYA (Muhammad SAW). Nabi segenap ummat manusia agar mereka memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat apabila mengikuti ajaran-ajaran dalam Islam yaitu berupa Al-Qur’an dan Hadist.
Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah berfirman. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang men-jadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Tidak mungkin, Allah yang telah menciptakan manusia, kemudian Allah memberikan beban kepada hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak sanggup lakukan.
Tujuan islam yang utama yaitu bertauhid kepada Allah SWT. Tauhid yaitu berkeyakinan bahwa Allah itu esa tak ada sekutu bagi-NYA. Keesaan yang dikehendaki islam adalah esa dalam segala hal esa pada dzat maupun sifat-NYA. Dan tujuan Islam yang lainnya adalah mengubah Akhlak manusia menjadi lebih bermoral, sebagaimana tujuan utama Rasulullah diutus yaitu untuk menyempurnakan Akhlak. Apabila kedua tujuan Islam ini telah dilaksanakan dengan sepenuhnya oleh umat Islam, saya yakin Islam akan berjaya kembali seperti pada zaman Rsulullah dan sahabat serta pendahulu kita yang pada masanya Islam sangat berkembang dan sangat dihormati dan disegani oleh umat-umat yang lainnya. Jadi, inti dari ajaran agama Islam adalah pendidikan, baik pendidikan aaqidah, syari’at, tasawuf dan yang lainnya, yang semua itu membentuk karakter manusia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Implikasi dari agama Islam adalah mengubah manusia menjadi manusia yang membawa rahmat bagi manusia lain, yang bermanfaat bagi manusia lainnya, dengan cara yang sesuai dengan syari’at islam itu sendiri.

3.      Pada dasarnya agama Islam ini sejak azali dirancang untuk rahmatan lil ‘alamin, dan itu bisa dicapai kalau penganutnya merasa bersaudara, kompak, bersatu. Tapi kenyataannya dalam perjalanan sejarah ia telah menimbulkan sengketa, karena adanya perbedaan pemahaman. Jelaskan bagaimana sebenarnya apakah ada perintah hanya boleh SATU paham, tidak boleh beda! Dan siapa jurinya kalau ada beda paham?
Jawaban:
Semua mempunyai argumen masing-masing. Mengedapankan fikrah dan manhaj masing-masing. Pedoman hidup umat Islam sebenarnya sama yaitu Al-Qur’an dan sunnah, tujuannya pun sama. Hanya saja, berada di perahu yang berbeda, nahkoda kapal mempunyai strategi masing-masing untuk melakukan navigasi dan mengarahkan awak kapal untuk berlayar pada tujuan yang sama tadi.
Sebagai hamba yang beriman, kita diperintahkan untuk bisa menerima bahwa adanya berbagai macam perbedaan pendapat atau paham itu sudah merupakan ketetapan Allah. Dan juga sudah seharusnya juga kita menyikapi hal ini dengan wajar. Dalam arti tetap menjalin interaksi dan toleransi terhadap berbagai macam golongan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam.
Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.
Untuk bidang hukum Islam, misalnya. Kita bisa melihat kitab Al Mughni karya Imam Ibnu Qudamah. Pada terbitannya yang terakhir, kitab ini dicetak 15 jilid. Kitab ini dapat dianggap sebagai ensiklopedi berbagai pandangan dalam bidang hukum Islam dalam berbagai mazhabnya. Karena Ibnu Qudamah tidak membatasi diri pada empat mazhab yang populer saja. Tapi ia juga merekam pendapat-pendapat ulama lain yang hidup sejak masa sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in.
Contoh ini berlaku pada semua disiplin ilmu Islam yang ada. Tidak terbatas pada ilmu hukum saja, seperti yang umumnya kita kenal, tapi juga pada tafsir, ulumul qur’an, syarah hadits, ulumul hadits, tauhid, usul fiqh, qawa’id fiqhiyah, maqashidus syariah, dan lain-lain.
Dan yang menjadi juri bagi perbedan ini adalah Allah SWT. Yang apabila benar mendapat pahala 10 (sepuluh) dan apabila salah pun tetap mendapat pahala 1 (satu). Sedangkan manusia tidak berhak untuk menghakimi suatu golongan yang lainnya.

4.      Mazhab, aliran, sekte dalam memahami Islam ada beberapa: mazhab aqidah, mazhab fiqih, mazhab tasawuf, mazhab filsafat, mazhab politik, dsb. Dari macam-macam mazhab itu berkembang lagi menjadi beberapa mazhab, aliran, tariqat, sekte, dan nama-nama yang berarti alur pikir, school of thought. Uraikan masing-masing kelompok dari mazhab-mazhab tersebut dengan segala implikasinya!
Jawban:
Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang bersifat qath’i yang bersumber dari Allah SWT., kemudian sumber kedua adalah sunnah yang berasal dari nabi Muhammad SAW. yang bersifat dhanni, dan yang ketiga adalah ijtihad para ulama yang berupa mazhab/aliran,dsb. yang bersifta dhanni.
Mazhab dalam islam ada sangatlah banyak, dan itu semua terdiri dari bagian-bagiannya sendiri (mazhab aqidah, mazhab fiqih, mazhab tasawuf, mazhab filsafat, mazhab politik, dsb).
Mazhab fiqh, yang populer ada 4 mazhab, yaitu mazhab hanafi, mazhab maliki, mazhab syafi’i dan mazhab hambali.
Mazhab aqidah ada beberapa: seperti mazhab asy’ariyah (dinisbatkan kepada abul hasan al-asy’ari), mazhab murji’ah,mazhab jabariyah (pertama kali diperkenalkan oleh ja’d bin dirham kemudian disebarkan oleh jahm bin shafwan dari khurasan), mazhab mu’tazilah (pendirinya Abu Huzaifah Washil ibn Atha al-Gazzal), mazhab jahmiyah (nisbat kepada Jahm bin Shafwan) yang belajar pada Ja’d bin Dirham. Ja’d bin Dirham belajar pada Thalut. Thalut belajar pada Labib bin al-`Asham, seorang Yahudi, maka jadilah mereka semua murid-murid Yahudi. Ajaran Jahmiyyah adalah tidak menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah, dan mereka beranggapan bahawa Allah adalah zat yang kosong dari nama-nama dan sifat-sifat, kerana menetapkan nama-nama dan sifat-sifat menurut anggapan mereka akan mengakibatkan kesyirikan dan berbilangnya sesembahan. Perkataan mereka itu adalah syubhat dan kekeliruan yang terkutuk.
Mazhab tasawuf ada beberapa yang populer: seperti mazhab tareqat qadariyah (aliran yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani), mazhab Tarekat Naqsabandiyah (pendirinya yaitu Muhammad bin Baha’uddin Al-Huwaisi Al Bukhari, mazhab chistiyah (Komunitas Chistiyah ini, berawal di Chisti, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka), mazhab Tarekat Sadziliyah (pendirinya Abdul Hasan Ali Asy-Syazili) a liran ini pada masa sekarang dapat dijumpai di Kenya, Tanzania, Timur tengah, Srilangka, dan tempat lain termasuk Amerika barat dan utara. Ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya. Mazhab Tarekat Rifaiyah (pendirinya Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifai) Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu Zikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan oleh senjata tajam.
Mazhab/ aliran politik pun ada beberapa macam sepeti politik demokrasi (sistem politik yang mendasarkan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi), politik oligarki (sistem politik yang mendasarkan pada pemerintahan yang kekuasaan negaranya ada di tangan sejumlah orang (kelompok elit) dan selalu mengusahakan dengan segala cara agar rakyat dapat dikendalikan dan dikuasainya), politik otoriter (sistem politik yang mendasarkan pada sistem otoritas yang telah mapan “establish authority”), politik totaliter (sistim politik dalam suatu negara yang pemerintahannya mendasarkan: Kekuasaan tak terbatas, Tidak menerima adanya oposisi, Melakukan kontrol yang sangat ketat terhadap warga negaranya), politik otokrasi tradisional (sistem politik yang pemerintahannya memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut: Kurang menekankan pada persamaan tetapi lebih menekankan ada stratifikasi ekonomi, Kebebasan politik individu kurang dijamin dan lebih menekankan pada perilaku yang menuruti kehendak kelompok kecil penguasa, Kebutuhan moril dan nilai-nilai moral lebih menonjol dari pada kebutuhan materil, Lebih menekankan pada kolektivisme yang berdasarkan kekerabatan dari pada individualisme).
Dan masih banyak lagi mazhab-mazhab dalam Islam yang terpecah dari berbagai macam bidang ilmu lainnya. Namun semua mazhab, aliran atau tareqat itu implikasinya bertujuan kepada kebaikan, hanya cara dalam mencapai kebaikannya yang berbeda-beda.

5.      Diantara orang mempelajari agama Islam adalah untuk diamalkan (khususnya bagi pemeluknya). Uraikan bagaimana fenomena sikap pemeluk pada umumnya dalam mensikapi agamanya ini! Setia? Tidak setia? Sejauh mana amalan mereka telah menghasilkan kemaslahatan bersama? Jelaskan uraian saudara dengan alasan yang baik!
Jawaban:
Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dan agar itu tercapai pemeluknya harus benar-benar mengamalkan seluruh ajarab Islam itu. Namun apabila kita melihat dan menganalisa fenomena yang terjadi pada umat Islam sekarang ini khususnya di indonesia dan di lingkungan sekitar kita, maka akan tampak kenyataan yang berbeda dari harapan, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya tingkat kriminalitas seperti pencurian, pembegalan, pemerkosaan bahkan pembunuhan, masih banyak perilaku sosial yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam seperti adanya diskotik, tempat-tempat pelacuran dan perjudian dan lain-lain, juga masih tingginya tingkat kemiskinan yang mendera umat Islam yang merupakan konsekuensi dari kurang adanya kepedulian sosial yang berdampak pada lemahnya umat Islam.
Sangat banyak saya jumpai umat Islam yang bahkan merasa tidak berdosa meninggalkan sesuatu yang wajib baginya seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain, ini disebabkan karena lemahnya Iman pemeluk Islam. Dampak dari ini semua adalah munculnya penyakit hati, malas, dan lain sebagainya.
Solusinya adalah mereka bertaubat dan kembali mengamalkan ajaran Islam,  yang berfungsi sebagai pendidikan kepada pemeluknya agar bersikap baik, peduli sesama, disiplin, jujur, amanah.

6.      Bagaimana relasi antara agama (Islam), pemeluk (muslim), dan kualitas (prilaku islami)? Bagaimana cara mencapai kualitas yang terakhir ini sehingga tujuan rahmatan lil ‘alain tercapai?
Jawaban:
Seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, bahwa muslim saat ini sudah kurang menerapkan ajaran Islam, dalam artian relasi yang tidak baik antara muslim dan agama Islam.
Jadi, agar kualitas (perilaku islami) dapat diperoleh maka tergantung setiap idividu muslim itu sendiri, masih mau dan sanggupkah menerapkan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin? Apabila Muslim telah sanggup untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaffah, maka akan terciptanya kedamaian, persatuan, persaudaraan, tidak hanya sesama muslim bahkan dengan non muslim sekalipun.
Pada hakikatnya manusia sangat membutuhkan agama Islam, karena manusia itu sangatlah lemah, dan kelemahan manusia yang terbesar adalah kematian. Manusia mempunyai akal, dengan akal ini manusia berusaha menganal alam dan kedudukannya di alam serta tujuan yang harus dicapainya. Hanya saja, akal bisa tersesat dan memang sering tersesat ketika berusaha untuk mengetahui apa yang di luar kemampuanya itu.[2] Karena keterbatasan itulah maka manusia sangat membutuhkan agama (Islam), dan membangun relasi yang baik dengan Islam akan berdampak besar bagi kehidupannya di dunia baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah dimuka bumi ini.
Cara memperoleh dan meningkatkan kualitas (prilaku islami) dengan Islam yaitu bisa diperoleh dengan 3 prinsip.
1.      Prinsip pertama adalah iman ilmu
Dengan iman dan ilmu manusia akan baik, dan derajatnya akan diangkat oleh Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-mujadalah ayat 11 (Allah SWT. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman dan berilmu diantaramu beberapa derajat).
2.      Prinsip kedua adalah kesungguhan
Mencari ilmu dan meningkatkan keimanan serta istiqamah dalam ketaqwaan haruslah dibarengi dengan kesungguhan. Tidak ada satu hal apapun yang dapat diperoleh dengan tanpa usaha. Allah telah menjanjikan bahwa akan dibukakannya pintu kemudahan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, sebagaimana firmannya dalam surat Al-‘Ankabut: 69.
3.      Prinsip ketiga adalah keiklasan
Seseorang muslim harus iklas dalam berbuat apapun. Semua dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah. Dengan keiklasan manusia akan selalu berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain.

7.      Dalam kehidupan manusia yang berbagai dimensi ini ada aspek sakral dan ada pula yang profone. Uraikan jawaban saudara dengan contoh yang jelas! Mutlakkah status sakral dan profone ini atau relative dalam persepsi masyarakat?
Jawaban:
Sakral itu sesuatu mutlaq, yang wajib dipegang erat, tidak boleh diubah oleh masyarakat. Contohnya shalat.
Profone itu adalah budaya, sesuatu yang diciptakan dan dikembangkan oleh manusia untuk menambah nilai lain bagi sesuatu yang sakral. Jadi profone ini adalah relatif dan dapat terus berkembang bersamaan dengan kemajuan berfikir manusia.
Contohnya, shalat adalah sesuatu yang sakral, sedangkan yang profone adalah memakai peci, ada juga yang memakai sarung, jubah dan lain-lain.

8.      Mengapa sekarang muslim begitu LEMAH dalam ekonomi, politik, dan teknologi? Adakah faktor agama yang telah menghambat kemaslahatan itu. Atau faktor apa?
Jawaban:
Faktor yang menghambat kemajuan ekonomi, politik dan teknologi adalah individu setiap muslim itu sendiri, muslim saat ini begitu malas untuk membahas mempelajari, menciptakan dan mengembangkan sesuatu yang baru dalam hal teknologi. Juga dalam bidang ekonomi dan politik, yang sebenarnya paham ajaran agama Islam yang sangat baik dalam kedua hal ini dibandingkan dengan paham yang lainnya seperti paham liberal, sekuler, dan lain-lain. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang non muslim yang justru mempelari bahkan mengamalkan ajaran islam dalam bidang ekonomi dan politik. Bahkan Afghani dan Muhammad ‘Abduh pernah meneliti mengenai hal ini, dan kemudian beliau mengatakan: ketika saya pergi kenegeri orang saya melihat Islam, tapi tidak menjumpai muslim dan ketika saya pulang ke kampung halaman, saya menjumpai muslim tetapi saya tidak melihat Islam.
Hal tersebut dapat diartikan bahwasanya sedikit sekali pemeluk (Islam) yang benar-benar menerapkan ajaran Islam, saat ini Islam hanyalah symbol, sedangkan subtansi dari Islam itu sendiri diabaikan oleh kebanyakan Umat Islam. Umat Islam saat ini sibuk dengan mengurusi kesenangan dunia. Ada dua faktor besar yang menyebabkan Umat Islam begitu lemah, yaitu kebodohan dan cinta dunia.
Islam sudah ditata oleh Allah dengan ajaran-ajarannya yang sangat luar biasa dalam segala aspek, tercakup aspek ekonomi, politik, dan teknologi. Hanya saja umat Islam tinggal mempelajari dan mengamalkanya.




[1] Yusuf Qardhawi, Pengantar Kajian Islam (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), 2013. Hal. 7
[2] Muhammad yusuf musa, Islam: suatu kajian kompherensif ( Jakarta: CV. Rajawali), 1988. Hal. 8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar